Piyagêm Pagadén-Pamanukan (1808 M): Tradisi Mataram Islam dan keberlanjutannya di wilayah Priangan

Authors

  • Muhamad Alnoza Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia, Indonesia
  • Rusmia Nely Universitas Indonesia, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.523

Keywords:

legitimasi, Piyagêm Pagadén-Pamanukan, Sumedang, Suriyanagara II

Abstract

Piyagêm Pagadén-Pamanukan berisikan perintah menjalankan syariat agama Islam yang di keluarkan pada tahun 1808 oleh Adipati Sumedang pada masa itu, Suriyanagara II (1791-1828). Artikel ini meneliti motivasi dan sebab yang melatarbelakangi penerbitan piyagêm tersebut lewat penelusuran peristiwa sejarah dan keadaan politik yang kontekstual. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui bentuk pola penulisan prasasti yang dikeluarkan oleh golongan ménak, dengan meninjau hal-hal apa saja yang sekiranya masih dipertahankan dalam penulisan prasasti sejak zaman Mataram Islam dan hal apa saja yang sekiranya diadaptasi oleh Adipati Suriyanagara II. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sejarah dan epigrafi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa motivasi penerbitan Piyagêm Pagadén-Pamanukan adalah bentuk eksploitasi kapital politis Suriyanagara II sebagai Bupati Sumedang di masa itu. Di sisi lain, Suriyanagara II juga melestarikan tradisi penulisan Piyagêm Mataram dalam semangat memperkuat legitimasinya. Dengan mengeluarkan piyagêm berbahasa Jawa, Suriyanagara II mengidentikkan diri dengan kekuasaan Mataram di sebelah timur.  

Downloads

Published

31-12-2024

Issue

Section

Articles

Citation Check