Upaya memaknai kembali Banyu Penguripan: Kearifan lokal masyarakat Kudus sebagai strategi penyediaan air bersih berkelanjutan

Authors

  • Devina Ocsanda Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Tiyo Ardianto Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Adelin Gusman Munir Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Nurma Aisyah Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Sartini Sartini Universitas Gadjah Mada, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.526

Keywords:

Banyu Penguripan, ekologi spiritual, kearifan lokal, krisis air bersih

Abstract

Masjid Menara Kudus di bawah kepengurusan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus membangun sebuah narasi besar mengenai Banyu Penguripan yang lekat dengan ajaran Sunan Kudus. Di luar narasi tersebut, masyarakat mengenal konsep air sebagai kunci kehidupan merespons kebutuhan mutlak akan air. Krisis air bersih menjadi masalah tingkat global yang sangat mendesak untuk diselesaikan. Riset mengenai Banyu Penguripan pada Masyarakat Kabupaten Kudus bertujuan untuk melihat strategi penyediaan air bersih berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Riset ini merupakan riset deskriptif kualitatif dengan menggunakan kerangka teoretis ekologi spiritual sebagai landasan analisis. Riset ini menghasilkan tiga temuan penting. Banyu Penguripan yang dikenal masyarakat Kudus memiliki historisitas terkait sinkretisme kepercayaan terhadap danyang, dewi, dan tokoh penyebar Islam (dalam Masa Pra-Islam, Masa Islam Awal, dan Masa Islam Lanjut). Dalam kerangka ekologi spiritual, Banyu Penguripan memengaruhi masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan dalam dimensi sakral. Banyu Penguripan dapat dipandang sebagai kearifan lokal yang mengajarkan cara konservasi air.

Downloads

Published

31-12-2024

Issue

Section

Articles

Citation Check