Jejak Ekonomi Kolonial pada Lanskap Budaya di Kuantan
DOI:
https://doi.org/10.52829/pw.613Keywords:
Kuantan, cagar budaya, ekonomi kolonial, lanskap budayaAbstract
Artikel ini mengkaji hubungan antara sejarah ekonomi kolonial dan lanskap budaya masyarakat Kuantan, Riau. Sejak abad ke-19, Sungai Kuantan menjadi koridor vital dalam distribusi komoditas kolonial, terutama karet, yang mengintegrasikan daerah pedalaman dengan jaringan perdagangan kolonial Belanda. Di balik fungsi ekonominya, sungai juga menjadi arena interaksi sosial-budaya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi kolonial membentuk struktur sosial-ekonomi Kuantan, serta bagaimana warisan dari periode tersebut bertransformasi dan berpotensi sebagai Cagar Budaya. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan memadukan analisis arsip kolonial, literatur sekunder, wawancara tokoh lokal, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur kolonial rumah kontrolir, kompleks kantor pemerintahan, pasar, rumah sakit, masjid, dan jaringan pemukiman menjadi bagian dari lanskap budaya Kuantan yang menjadi sumber identitas, memori kolektif, dan potensi pelestarian budaya. Namun ada pembangunan ulang terhadap elemen lanskap tanpa mempertimbangkan nilai warisan sehingga mengaburkan jejak material yang seharusnya dapat berfungsi sebagai sumber sejarah dan bagian dari memori kolektif masyarakat. Temuan ini memperkaya historiografi lokal serta memberikan implikasi penting bagi pelestarian Cagar Budaya di Kuantan.
Downloads
Published
31-12-2025
Issue
Section
Articles
Citation Check
License
Copyright (c) 2025 Indriani, Fadhilah Ariani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.