Skriptorium Kedungpoh Gunungkidul: Tradisi Tulis Alternatif di Luar Hegemoni Istana Yogyakarta

Authors

  • Hannan Asrowi Efflina Lailufa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia
  • Manneke Budiman Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.646

Keywords:

budaya alternatif, kodikologi, naskah kuno, Skriptorium Kedungpoh, tradisi tulis vernakular

Abstract

Kajian ini berangkat dari dominasi tradisi tulis di lingkungan istana-istana di Yogyakarta yang populer dan sering diposisikan sebagai pusat literasi Jawa, sementara praktik penulisan di luar istana kurang mendapat perhatian. Artikel ini mengangkat naskah-naskah Skriptorium Kedungpoh peninggalan Kiai Muhammad Kiramu di Gunungkidul sebagai contoh tradisi tulis alternatif. Berbeda dari koleksi istana yang penuh simbolisme kekuasaan, naskah-naskah Kedungpoh seperti Suluk Sujinah, Serat Menak, dan Layang Samud merepresentasikan kebutuhan masyarakat lokal sekaligus membedakan diri dari corak hegemoni keraton. Melalui pendekaan kodikologi, filologi, dan historisitas ditemukan bahwa penulisan naskah di Kedungpoh tidak hanya berfungsi sebagai media religius-edukatif, tetapi juga sarana pembentukan adab, ingatan kolektif, dan identitas komunitas. Hasil kajian menegaskan bahwa naskah-naskah Kedungpoh merupakan formasi kultural emergen yang menjadi sarana literasi alternatif, sekaligus meneguhkan pentingnya eksplorasi atas akan tradisi tulis vernakular sebagai bagian integral dari sejarah budaya Jawa.

Downloads

Published

31-12-2025

Issue

Section

Articles

Citation Check