Transformasi Tradisi Masatia Padem Menjadi Masatia Rambut Pasca Intervensi Kolonial di Bali 1905

Authors

  • Safin Karunia Rojuli Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Indonesia
  • I Gusti Agung Ngurah Dharma Yuda Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.653

Keywords:

Bali, intervensi, masatia, masatia rambut, transformasi, kolonialisme

Abstract

Intervensi Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1905 menghapus tradisi masatia di Bali, yaitu praktik janda atau abdi mengorbankan diri saat upacara kremasi penguasa. Dengan metode penelitian sejarah yang meliputi pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, serta menggunakan sumber arsip lokal dan kolonial, penelitian ini menemukan adanya transformasi tradisi setelah penghapusannya. Pada 1939 muncul tradisi masatia rambut sebagai bentuk baru kesetiaan dan pengabdian, yang bersifat lebih humanis. Berbeda dengan masatia, tradisi ini diinisiasi masyarakat secara kolektif, dilakukan oleh pria, dan tidak dipaksakan oleh kerajaan. Transformasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali menyesuaikan ekspresi dan kedinamisan budaya mereka dalam konteks perubahan sosial-politik pasca pengaruh kolonial.

Downloads

Published

31-12-2025

Issue

Section

Articles

Citation Check