Keberagaman Sosial-Budaya Kesultanan Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.52829/pw.655Keywords:
Keberagaman, Kesultanan, YogyakartaAbstract
Artikel ini merangkum analisis pengelolaan keberagaman dari dua cara pandang dengan pijakan relatif berbeda. Pertama, pengelolaan yang didorong dari atas oleh pemerintah kolonial Belanda dan negara Indonesia. Kedua, pengelolaan dari bawah melalui peran dominan garis keturunan lokal para Sultan, kerabat, dan para pendukung Kesultanan Yogyakarta. Ketika hubungan etnis, kelas, dan agama di Indonesia sering dipandang sebagai sumber potensial konflik dan kekerasan, maka keberagaman relatif dapat berujung pada eksploitasi, diskriminasi, marginalisasi, dan konflik. Dalam konteks ini, analisis tentang keberagaman menjadi krusial dalam proses perwujudan keharmonisan kehidupan bersama. Artikel ini memberikan pemahaman sejauh mana perkembangan sosial-budaya di wilayah Yogyakarta telah menggerakkan pengelolaan keberagaman menuju tatanan kemajemukan sosial-budaya yang lebih luas. Yogyakarta relatif dapat mengelola keberagaman dengan menyeimbangkan kelompok-kelompok heterogen dalam fleksibilitas identitas mereka. Yogyakarta merupakan wilayah yang relatif otonom dan memiliki sejarah dengan konflik kekerasan relatif sedikit, sehingga Yogyakarta menjadi contoh kasus yang menarik dalam proses perwujudan keharmonisan kehidupan bersama seiring dengan perkembangan kehidupan.
Downloads
Published
31-12-2025
Issue
Section
Articles
Citation Check
License
Copyright (c) 2025 Y. Argo Twikromo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.