Pasemon Sebagai Bahasa Kritik Dalam Seni Pertunjukan Masyarakat Madura

Authors

  • Akhmad Sofyan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, Indonesia
  • Panakajaya Hidayatullah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, Indonesia
  • Ali Badrudin Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.306

Keywords:

Pasemon, criticsm, performing art, Madurese

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni yang membahas perihal pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura. Secara komprehensif menelaah tentang klasifikasi model pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura ditinjau secara semiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pasemon dalam seni pertunjukan terbagi atas 3 model yakni Model Papareghân/paparèkan; Model sindiran langsung; dan Model penokohan; Model Paparèkan merupakan model kritik yang disampaikan melalui bentuk pantun tradisional berbahasa Madura baik secara langsung maupun melalui kèjhungan(nyanyian). Paparèkan digunakan untuk mengkritik lawan main dalam pertunjukan, maupun untuk mengkritik fenomena sosial masyarakat. Model sindiran langsung, merupakan moda kritik yang diucapkan secara langung dengan kalimat yang lugas oleh aktor/pelawak di atas panggung. Umumnya sindiran diucapkan dengan gaya humor. Sindiran langsung digunakan untuk mengkritik penonton, tuan rumah, situasi sosial maupun perilaku masyarakat hari ini. Model penokohan, adalah moda kritik

Published

30-08-2020

Issue

Section

Articles

Citation Check