Perempuan-Perempuan Pionir dalam Pendidikan Dokter di Indonesia Masa Kolonial

Authors

  • Baha Uddin Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Bambang Purwanto Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • Mutiah Amini Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52829/pw.640

Keywords:

diskriminasi, kolonial, pendidikan dokter, perempuan pribumi

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya penelitian yang mengkaji mengenai keberadaan perempuan dalam pendidikan dokter di Indonesia pada masa kolonial. Hal ini sangat penting karena pendidikan dokter menempati status pendidikan lanjutan dan tergolong lembaga yang elite dan prestisius. Oleh karena itu, permasalahan yang diangkat dalam kajian ini adalah mengenai akses perempuan Indonesia untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan dokter. Kajian ini bertujuan memberi kontribusi kajian sejarah perempuan dalam bidang pendidikan dokter dalam historiografi Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan beberapa tahapan penelitian, yaitu, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Selama hampir 60 tahun pendidikan dokter di STOVIA, semua siswanya berasal dari kalangan laki-laki. Pemerintah kolonial menganggap perempuan pribumi tidak layak untuk berprofesi sebagai dokter. Setelah terjadi perdebatan panjang, pada 1912, akhirnya pemerintah kolonial mengizinkan perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dokter. Pionir perempuan pribumi untuk mengakses pendidikan dokter adalah Marie Thomas kemudian disusul oleh Anna Warouw, keduanya berasal dari Minahasa. Keduanya mendobrak diskriminasi pemerintah kolonial dalam hal akses perempuan pribumi mendapatkan hak dalam pendidikan dokter.

Downloads

Published

31-12-2025

Issue

Section

Articles

Citation Check